Assalaamu’alaikum Suamiku : Tak Ada yang Sempurna

Hari-hari manis berlalu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalmu. Benar nasehat ummi beberapa waktu lalu, bahwa kelak dengan sendirinya aku yang akan menyesuaikan diri sesuai dengan hal-hal yang kau senangi.

AKu suka memandangmu setelah kau berdandan. Sarung yang tak pernah lepas ditambah baju koko lengan panjang warna pastel, terlihat pas dan memancarkan wajahmu yang bercahaya. Hmmm…meski begitu aku kurang suka kalau kau sudah t….eh, tak boleh memperbincangkan hal-hal yang buruk tentangmu. Karena kau kini adalah imamku. Apa kata ibu-ibu diluar sana yang menjadi murid ngajimu dan mungkin saja mengharapkanmu menjadi menantu?

Hari ke 59 pernikahan kita, di mana aku sudah tinggal selama itu di rumahmu. Pagi itu kita jalan berdua sambil menyesap aroma pagi yang masih perawan. Berjalan sambil saling menggenggam jemari tangan, bergandengan, diselingi dengan bercerita segala hal yang terdengar tidak begitu penting menuju pasar yang jaraknya hanya 10 menit dari tempat tinggal. Di sepanjang jalan masuk, berjejer pedagang menjajakan berbagai macam sayuran. Mataku terpaku pada satu penjual yang didepannya teronggok bahan makanan kesukaanku. Kakiku mendekat. Kau seperti terlihat ingin mengucapkan sesuatu.

“Murah, Mbak. Hanya 8000 sekilonya.” Tentu saja hatiku bahagia mendengarnya. Setelah sekian lama harga bahan makanan ini dua kali lipat dari harga sekarang ini yang ditawarkan.

“Sekilo ya, bu.” Aku tahu jika kau tak begitu menyukai makanan jenis ini. Tapi aku akan membuktikan kepadamu, bahwa kau perlu mengakui jika rasanya lezat sekali.

Sampai rumah, kau asyik masuk di dalam kamar. Mungkin murajaah atau sedang menulis buku. Akupun sibuk memasak di dapur. 1 jam lebih mempersiapkan gulai jengkol dan juga pindang ikan maska kuning, makanan kesukaanmu.

Bergegas aku ke kamar setelah membersihkan badan. Kulihat dirimu sudah pulas dengan laptop yang masih menyala dan beberapa buku berserak di sekitarnya. Hmm..dan pakaianmu, sarung dan koko masih melekat di badanmu. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, melepaskan nafas agar tekanan di dada ini sedikit terlepas. Aku mendekat, ku tekan tombol sleep di sudut layar laptop dan menumpuk buku-buku yang berserak kemudian meletakkanya di atas nakas, di samping tempat tidur.

Wajahmu terlihat tak berdosa. Rambut tebalmu masih memanjang hingga sebahu. Kau terlihat menawan. Semakin aku tinggal bersamamu, semakin aku tahu bahwa tak ada mahluk yang sempurna. Begitu juga dengan kita, dirimu dan diriku.(end)

#ODOPBloggerSquad
#KomunitasOneDayOnePost
#CeritaPernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s