Assalaamualaikum Suamiku : Aku Jatuh Cinta Sesaat Sebelum Akad

Mungkin ini rasanya jatuh cinta ketika sudah menikah. Bahagianya begitu menenangkan. Rasa dag dig dug di hati saat menatap wajahnya dan ingin memegang tangannya begitu nyata tanpa rasa ketakutan bahwa hal itu adalah sebuah dosa. Ini sudah halal, tetapi rasa malu masih menyergap.

Kamu selalu mengumbar senyum manismu. Mungkin ini pertama kalinya aku benar-benar menikmati senyum manis orang asing. Yah, 9 tahun di pesantren, membuatku begitu terbatas untuk mengagumi laki-laki di luar sana.

Akan kuceritakan sedikit rahasia, meski sebenarnya itu membuatku malu. Pagi itu, sesaat seselum akad berlangsung, ketika rombongan keluargamu datang ke rumahku, dan berbaris rapi di depan pintu gerbang rumah, kusempatkan mengintip dari balik jendela kamar. Beberapa orang yang menemaniku di kamar sempat melarangku, tetapi akhirnya mereka hanya bisa terkikik menahan tawa.

Kupandang wajahmu yang terlihat tampan, kulitmu putih bersih, rambutmu panjang sebahu, surban putih yang melilit di kepala membuatmu terlihat lebih mempesona. Di tambah gamis putih yang memanjang hingga ujung mata kakimu, benar-benar menawan mataku. Meskipun tinggimu tidak menjulang. Kulihat kamu saat itu sedang berbisik-bisik dengan seorang ibu yang terlihat seusia dengan ibuku. Mungkingkah itu ibu mertuaku. Sebenarnya aku merasa jika ummi sedikit keterlaluan ketika tidak mempertemukanku denganmu dan juga keluargamu. Tetapi ummi bilang, dia tahu apa yang kumau, apa keinginanku, apa yang kusuka, biar semuanya menjadi kejutan. Kembali kulirik dirimu yang masih berdiri di sana. Sesekali tangan kanan ibu itu membelai punggungmu, mungkin kamu sedang gugup dan dia sedang berusaha menenangkanmu.

Metroworld.id

“Rain, sudah ngintipnya. Nanti kamu bisa memandang dia sepuasnya.” Teman-teman di kamar yang menemaniku mulai usil. Tetapi mungkin benar, aku sudah mencuri start menatap ketampananmu. Hatiku berdesir, ada kupu-kupu yang mneyelinap di perutku. Akhirnya aku melangkah perlahan duduk di tepi ranjang, memainkan kuku dan jemari tangan yang sudah terukir indah dengan lukisan inai.

Tak lama terdengar sayup-sayup suara-suara di luar kamar, lebih tepatnya di ruang tamu, tempat berlangsungnya akad nikah. Hatiku semakin menggigil. “Ya Allah, Ya Allah.” Aku menyebut Asma-Nya dan mencoba melantunkan shalawat agar hatiku tenang.

“Tok, tok, tok.” Terdengar pintu diketuk. Naily, salah satu teman yang berada di kamar ini, bangkit. Kuarahkan tatapanku ke pintu. Tiba-tiba hatiku berdesir hebat, sosokmu berdiri di sana. Di tanganmu ada sebuah kotak kaca, yang aku kurang tahu isinya apa. Di belakangmu berdiri dua orangtua yang belum aku kenal. Mereka menyunggingkan senyum kepadaku. Tak lama kemudian, abi dan umi muncul dari balik kedua punggung -mungkin mertuaku- itu.

Kamu mulai melangkah perlahan mendekatiku. Wajahmu pun gusar…atau apa ya…malu-malu. Lalu kamu serahkan kotak itu kepadaku. Kita saling bertatap, diiringi gemuruh hati yang semakin menjadi. Kugenggam jemari tanganmu, lalu kucium punggung tanganmu dengan sepenuh rasa takdzim, menyadari kini kamulah pemilikku yang sah. Tangan kananmu kemudian kembali meraih tanganku, memimbingku keluar kamar. Saat itu aku yakin kita sama sama tahu bahwa tangan kita yang membeku saling mencoba mengenali.

Kemudian kita duduk berhadapan di depan petugas KUA. Kembali ritual itu diulang. Kurasakan tanganmu gemetar saat punggung tanganmu kucium-agak lama-, untuk memenuhi permintaan fotografer yang mengabadikan moment bersejarah itu. Setelahnya kamu kecup keningku. Mungkin wajahku sudah merah padam jika bisa melihatnya. Petugas KUA lalu menuntunmu membacakan sighat taklik dan meminta kita menandatangani buku nikah. lalu, kita berdua kembali duduk berdampingan, sambil memamerkan buku nikah yang membuktikan bahwa kita berdua sudah sah. Kita berdua seperti artis yang menjadi incaran paparazi.

Rasa lega, bahagia dan syukur tak henti kuucapkan dalam hati. Lelaki yang terlihat bagus fisiknya, semoga begitu juga dengan akhlaknya. Aku harus berterimakasih kepada ummi dan abi yang telah memilihkan jodoh yang baik untukku.

Suatu hari nanti, ketika kita sudah tidak ada rasa canggung lagi saat bercengkerama, akan kukatakan kepadamu bahwa aku telah jatuh cinta padamu sesaat sebelum akad. Assalaamualaikum suamiku. (to be continue)

#ODOPBloggerSquad
#KomunitasOneDayOnePost
#CeritaPernikahanIslami
#CeritaRomantis

5 comments

  1. Duuhh… berasa tambah jatuh cinta lagi sama Aa, eh. Aku bacanya ngalir bund, kayak berada di posisinya Rain 😄

    Rain? Jadi inget kak intan 😅

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s